Kamis, 26 Desember 2013

Caleg Penunggu Pohon oleh Valentinus Boro Beda C

Selama hampir 15 tahun, terhitung sejak 1999, rakyat Indonesia alias calon pemilih selalu disuguhi alat peraga kampanye bersifat paritas dan bergaya visual narsisisme. Caleg yang menerapkan strategi narsisisme—dengan memasang deretan gerbong gelar akademis, gelar kebangsawanan, gelar keagamaan, dan hubungan kekerabatan dengan tokoh parpol—ditengarai belum mempunyai pengalaman dan kompetensi memadai di jagat politik.
Mereka tanpa malu dan ewuh pakewuh membentangkan dirinya dalam bentangan spanduk, rontek, billboard, dan baliho yang ditancapkan dan dipakukan di batang pohon terutama di kota Bojonegoro. Karena perilaku negatif semacam itu, Komunitas Reresik Sampah Visual menjulukinya sebagai ”caleg penunggu pohon”.  Ujungnya, ”caleg penunggu pohon” justru menebar rasa antipati di calon pemilih. Pola komunikasi politik yang dijalankannya cenderung memaksakan kehendak pribadinya.
Hal itu terlihat saat ”caleg penunggu pohon” belum menjadi anggota legislatif, tetapi realitas sosialnya sudah bertindak adigang, adigung, adiguna lewat pemasangan alat peraga kampanye yang amburadul, tidak ramah lingkungan, dan mengabaikan ekologi visual. Selain itu, kenyataannya mereka belum resmi menjadi anggota dewan. Namun, secara terstruktur mereka sengaja melanggar Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 15 Tahun 2013. Mereka dengan kesadaran penuh menebar sampah visual iklan politik di ruang publik.
Apologinya, demi mengejar aspek popularitas di tengah calon pemilih yang belum mengenal dirinya.
Di antara kesibukannya menebar sampah visual iklan politik, para ”caleg penunggu pohon” lewat bentangan spanduk, rontek, dan baliho yang jadi andalannya juga menjalankan ritual obral janji politik. Seperti apakah janji politik yang diobral para ”caleg penunggu pohon?”  Biasanya berupa janji surga. Sebuah janji politik yang realitas sosialnya sulit diejawantahkan.
Dalam berkampanye, kenapa ”caleg penunggu pohon” menjalankan strategi komunikasi obral janji politik? Kenapa mereka meniru pengelola mal atau pusat perbelanjaan yang suka menggelar obral diskon? Ditengarai, ”caleg penunggu pohon” merupakan caleg panik yang dikejar deadline untuk memperkenalkan dirinya kepada calon pemilih di daerah pemilihannya. Caleg seperti itu adalah caleg instan yang tidak memiliki dukungan riil di tengah masyarakat calon pemilih.
Karena dosa sosial semacam itulah mereka akhirnya membenamkan diri bersama obral janji yang dikemas dalam iklan politik dengan konsep hard sell. Mereka sangat menyukai konsep semacam  ini sebab diyakini  mujarab mendongkrak popularitas ”caleg penunggu pohon”.
Apa yang terjadi kemudian? Realitas lapangan menunjukkan arah jarum yang  berputar terbalik. Barangkali, secara kasatmata mereka populer di depan mata calon pemilih. Namun, realitas sosial mengabarkan sebaliknya. Kenyataannya: aspek elektabilitasnya mengarah kepada satu titik nadir. Artinya, popularitas ”caleg penunggu pohon” yang didongkrak lewat tebaran sampah visual iklan politik yang ditancapkan di ruang publik dalam bentuk alat peraga kampanye, fakta visualnya tidak dengan serta-merta dipilih rakyat.
Cukupkah ”caleg penunggu pohon” bermodalkan popularitas dan gelontoran fulus untuk belanja alat peraga kampanye? Tidak cukup.  Pengalaman lapangan yang sudah teruji ruang dan waktu harus menjadi modal sosial ”caleg penunggu pohon”. Kualitas merek  sang caleg jauh lebih penting daripada sekadar obral janji politik dan  gembar-gembor mempromosikan dirinya bagaikan tong kosong berbunyi nyaring. Itu karena kualitas merek sang caleg yang kuat positioning-nya dapat dibuktikan lewat segepok karya nyata yang bermanfaat demi kemaslahatan rakyat Indonesia. Bukan justru dibuktikan lewat tebaran sampah visual iklan politik yang dibentangkan dan ditancapkan ”caleg penunggu pohon” di seantero ruang publik.

Valentinus Boro Beda C:

Rabu, 16 Oktober 2013

Perubahan adalah kerja bersama, bukan kesadaran atau kerja individu

Sebuah gerakan terencana, yang tidak hanya berangkat dari amarah semata, tetapi dari pemikiran yang sadar, matang, dan terkonsep.


Visi :
Mengawal Perubahan Bojonegoro Dalam Bingkai Keberagaman Dan Keselarasan

Misi :
       1. Menjaga konsistensi legislatif dalam mewujudkan pembangunan daerah
      2. Mengupayakan efektifitas anggaran (Budgeting)
     3. Mewujudkan fungsi kontrol / pengawasan terhadap kinerja eksekutif pemerintah daerah                  


     Program aksi:
       1. Rumah aspirasi rakyat
       2. Perjuangan 20% APBD untuk pendidikan
       3. Perluasan kesempatan kerja, terutama bagi kalangan muda
       4. Perlindungan atas minoritas dan kaum marjinal
       5. Intensifikasi sektor-sektor ril, seperti pertanian, perternakan, dan industri kecil
       6. Peberantasan korupsi melalui transparasi dan akuntabilitas
       7. Pengentasan kemiskinan melalui kebijakan pro-poor(Budgeting)

      Agenda-agenda kerakyatan
       1. Pendidikan ekonomi dan sosial-politik masyarakat
       2. Peberdayaan masyarakat desa, terutama perempuan
       3. Perlibatan aktif rakyat dalam kegiatan-kegiatan legislasi, (Budgeting)


Jumat, 11 Oktober 2013

Tanda Dua Lima

"Semua yang solid berasal dari kehampaan, semua yang tinggi berangkat dari permulaan, inilah hal ikhwal penciptaan. Bahwa pangkat, harta, atau gelar hanyalah penanda dari kehidupan yang tak rata"





Sebentar 20 juni kembali datang, penanda dalam hidup bahwa usiaku, kini dua lima tahun. Baris di mana begitu banyak tanda berserakan yang belum sempat disketsa menjadi diagram atau lukisan. Pada tanda-tandalah kita membaca, yang sudah serta yang akan terjadi dalam hidup.

Tanda pertama adalah Tanya. Inilah tanda yang berserakan dalam ruang pikir dan hati. Bahwa merencana,memulai, melaku, serta menikmat selalu berangkat pada tanya untuk dicari ataupun dijawab. Kadang tidak ada jawaban mesti hidup terus berjalan. Tanyalah alas dari pengetahuan, dan pengetahuan adalah peta untuk mengarungi hidup.

“Apa yang kau cari?”

Seperti kereta yang berhenti di stasiun sebagai penanda datang dan pergi. Semua kehidupan punya tujuan dan harapan. Tujuan untuk sampai dan harapan untuk meraih. Tandalah yang menyatakan, kita sampai atau tidak pada tujuan. Ada yang menanda tujuannya dengan posisi dan jabatan sebagai puncak perjalanan. Ada yang menanda pencapaiannya dengan harta dan benda sebagai keberhasilan. Ada pula yang mengabdikan hidupnya pada orang banyak, pengetahuan, keyakinan, serta cinta.

Semua yang solid berasal dari kehampaan, semua yang tinggi berangkat dari permulaan, inilah hal ikhwal penciptaan. Bahwa pangkat,harta, atau gelar hanyalah penanda dari kehidupan yang tak rata. Apapun itu,fungsi, manfaat, serta imanlah yang menjadi akar untuk memuliakan manusia dalam ragam ekspresi dan eksistensi.
Siapapun engkau, dimana apapun engkau, atau apapun engkau: tak ada yang perlu dilebih-lebihkan karena hidup adalah kehendak dan pilihan sendiri-sendiri.

Kalau kau jadi bandit,jadilah bandit besar karena itulah tanda bahwa kebenaran masih diperlukan.Kalau kau jadi ustad, jadilah ustad yang baik karena itulah tanda bahwa kemungkaran harus dilawan. Apapun tanda yang diberi atau terberi dengan sadar atau tidak, keadaan menuntut totalitas untuk sebuah kemuliaan.

Tanda kedua adalah Koma, ini adalah episode-episode yang tak terduga, penuh tepuk tangan atau air mata.Terkadang seperti bawang, dari kulit satu ke kulit lainnya. Dari satu pesta ke pesta lainnya. Dari satu cerita ke cerita lainnya. Dari satu perang ke perang lainnya. Tak jarang kita mengulang halaman yang sama atau terkurung dalam ritual rutinitas agenda harian, mingguan, bulanan yang memuakkan atau membuntukan.

“Bulatkan hatimu dan berdiri tegap dalam kenyataan!”

Koma, penanda hidup yang tak pernah bulat apalagi sempurna. Manusia (makro) dan diri (mikro) tak ubahnya bumi dan wajahnya. Manusia memiliki kehendak dan pikiran bebas untuk menyusun rencana apa saja atas kehidupan.

Bahwa perjalanan ini dipandu oleh kepala, idealisme dan harapan-harapan yang bulat. Tetapi berjalan haruslah dengan kaki, realisme, dan kenyataan. Kita bisa memilih buku apa saja untuk dibaca tetapi tak bisa membaca semua dalam waktu yang sama. Tak perlu mempertentangkan antara kepala dan kaki atau idealisme dan realisme.

Bulat selalu saja ada dalam kepala dan suara namun komalah atau (disable society) yang menjadi realitas. Epik klasik menceritakan bukan hanya kebencian atau kebaikan sebagai alasan manusia berkawan atau bermusuhan. Tetapi gravitasi alam yang menentukan sikap dan arti keradaan. Alasan apa kita harus berbeda bahkan saling berperang padahal harapan dan idealisme yang kita perjuangkan sama. Bahkan tak jarang di antara kita dilahirkan dari rahim atau makan dari piring yang sama.

Masih banyak tanda yang belum terurai, ada tanda tangan, ada tanda zaman, ada tanda-tanda kemenangan ataupun kekalahan. Sebagai tanda dua lima: stasiun terdekat sudah tiba!