Setahun yang lalu tepatnya,aq tulis tentang apa yang ada di pikiran ini,bahagia ketika bisa bertemu kawan2, yang bagi aq hebat di bidang ilmu masing2, tulisan ini adalah analisa aq ketika berada di dalam dunia gerakan,analisa ini masih butuh pematangan,maka itu saya harapakan kritik dari kawan2 adalah yang terpenting dalam hal ini.
Ada hal menarik ketika membaca “Arti dari Sebuah Realitas Kualitas” oleh salah satu mahasiswa dari satu organisasi di surabaya,di satu sisi saya memberikan apresiasi positif atas kritik yang coba disampaikan, apalagi mengingat budaya kritik masih menjadi sesuatu yang asing di kampus terutama menyangkut organisasi-organisasi kemahasiswaan. Akan tetapi, di sisi lain saya merasa ada keganjilan dengan beberapa asumsi mahasiswa tadi. Sehingga atas kedua alasan tersebutlah kiranya kemudian tulisan ini hadir.
Singkat kata, mahasiswa tersebut dalam tulisannya, mencoba menggoreskan kegelisahan-nya atas organisasi-organisasi kampus , yang nyaris seperti kura-kura. merayap membawa tempurung idealisme yang berat, dengan semut, menumpang keren di atasnya. parahnya, organisasi-organisasi yang beberapa di antaranya bahkan lebih tua dari umur saya sendiri. mereka nyata, selain lambat juga sekedar memasang kebesaran masa lalu sebagai pakaian longgar usang, untuk kemudian dipakai anak kecil narsis berusia belasan tahun. barangkali demikian saya mencoba menggambarkan kembali riak kegelisahan tersebut.
Ironis, namun demikianlah kenyataannya.apalagi sebagaimana dituliskan mahassiswa tersebut, ternyata jumlah anggota yang banyak tidak menjamin kualitas organisasi kecuali menambah menu gossip yang akan disampaikan ketika rapat. belum lagi visi dan misi atau khittah organisasi yang semestinya dijiwai oleh setiap individu, realitanya hanya menjadi barisan huruf mati yang dibaca dan dibahas setahun sekali dalam musyawarah anggota smabil tidur-tiduran.puji sukur kalau mereka tahu visi dan misi organisasinya sendiri, yang lebih parah bahkan tak tahu apa-apa. Itukah yang dinamakan kaum intelektual? kalau begitu sebuah adegan dramatis dan tragis tengah dimainkan di kampus ini.
Produktifitas Tanpa Nalar
Menanggapi persoalan di atas, dalam beberapa hal saya sepakat dengan mahasiswa tadi, terutama ketika berbicara mengenai kemauan organisasi untuk keluar dari zona nyaman dan pentingnya pemahaman terhadap konvensi organisasi, dalam rangka menjalankan roda mekanis sebuah organisasi. seperti kejelasan job desk, efektifitas jumlah anggota, dan kejelasan tanggung jawab.
Akan tetapi, menyandingkan organisasi kemahasiswaan dengan organisasi profit dan mematok produktifitas sebagai indikator kualitas sebuah organisasi. sepertinya pandangan tersebut terlalu pragmatis, seakan melupakan nilai-nilai ideal organisasi kemahasiswaan itu sendiri. apalagi produktifitas tersebut sering sekali hanya dimaknai sebagai banyaknya acara dan program yang dilaksanakan. contohnya dapat dilihat dalam realitas organisasi yang ada saat ini, baik berupa Lembaga kemahasiswaan, UKM,Club, Himpunan, dan komunitas-komunitas.
Tak dapat diingkari, sering kita lihat pamphlet-pamplet atau spanduk-spanduk hebat bertuliskan ‘nasional’ atau ‘internasional’, sering juga kita temukan selebaran-selebaran dibagikan, serta acara-acara komunitas dan UKM digelar dengan penuh antusiasme anggotanya. Dalam ukuran saya, adanya acara-acara menunjukkan skala produktifitas yang lumayan meskipun memang kadang kurang kreatif. tapi persoalan lain yang lebih mendasar adalah sering sekali acara-acara atau kegiatan-kegiatan tersebut tidak terlalu substantive dan membumi bahkan terkesan elitis. malah acara-acara itu kalau diamati dengan cermat, beberapa sangat tidak relevan dengan citra, visi dan misi atau khittah organisasi bersangkutan. miskin konsepsi dan kadang asal besar.
Bayangkan saja organisasi-organisasi yang terkenal dengan komitmen intelektualnya mereka rata-rata kini telah lumpuh dan tak lagi punya konsepsi mengenai realitas masyarakatnya.komunitas yang mengaku ‘kiri’ nyatanya cara berpikirnya dan berperilakunya masih borjuis bahkan mengarah pada bentuk-bentuk hedonism. lembaga kemahasiswaan entah mengapa, kerjanya hanya membuat seminar-seminar dan proyek-proyek elitis yang menghamburkan banyak biaya tapi sedikit dilirik mahasiswa. warta-warta sibuk nulis berita-berita yang sering sekali using,wacana-wacana krupukkebelet nikah’ atau tema-tema pubertas seperti ‘pacaran’ yang menurut saya cukup ketinggalan zaman untuk ukuran mahasiswa. dengan tata bahasa yang masih cukup tak teratur. lembaga dakwah (baca; aparat ideologis kampus) kesayangan para dosen, hanya sibuk menyebarkan wacana-wacana keIslaman skriptual, dan diskusi-diskusi digelar tapi diskusi inferior '
Apakah organisasi kemahasiswaan hanya akan berhenti pada bentuk-bentuk produktifitas seperti itu? berapa total energy yang dikeluarkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan tersebut? berapa dana mahasiswa yang dikeluarkan untuk itu semua? tapi mahasiswa toh tetap acuh dan santai seolah tak terjadi apa-apa. tapi toh tak ada yang banyak berubah dengan iklim kampus yang sepi kayak kuburan. tapi toh mentalitas dan karakter mahasiswa masih begitu-begitu saja, termasuk aktivitas-aktivitas organisasinya sendiri yang rata-rata sangat pragmatis, masih terjebak ke dalam bentuk-bentuk formalism serta lebih mirip borjuis salon daripada mahasiswa. Itu namanya produktifitas tanpa otak kalau boleh saya sebut. Bahkan cenderung mengarah pada apa yang disebut Nietzsche “betise bourgeoise” atau kebodohan borjuis. Dan bila mau bicara tentang sejarah, sejarah tentu tidak dibangun di atas kebodohan-kebodohan seperti itu.
Darinya, bisa dilihat bahwa produktifitas ‘kacang atom’ yang renyah tapi kosong saja tak cukup untuk membangun sebuah organisasi atau membuatnya di cap ‘berhasil’. untuk melakukan sebuah perubahan yang berarti selain produktifitas ‘kacang atom’, dibutuhkan juga sense of mission, idealism, komitment moral, kemauan untuk berkorban dan yang paling penting kemauan untuk berpikir atau pembangunan konsepsi-konsepsi yang jelas. apalagi bila mengingat bahwa intelektual, seperti kata Havel, “adalah mereka yang membaktikan hidupnya untuk berpikir demi kepentingan umum dan melihat persoalan masyarakat dalam konteks yang lebih luas” dan “berpikir” itulah kata Gramsci yang membedakan kaum intelektual dengan masyarakat awam. terutama pikiran yang terintegrasi dalam kepekaan ideologis dan konsekuensi-konsekuensi yang sepenuhnya disadari.
Budaya Intelektual
Karenanya, di samping produktifitas kacang atom tadi, sangat penting untuk melestarikan dan menumbuhsuburkan kembali budaya intelektual yang sekarang hampir punah dan menjadi reruntuhan purbakala di kampus. tapi bukan budaya intelektual yang kerjanya mengagung-agungkan mainstream pemikiran tertentu dan mengarah pada keseragaman berpikir yang jemu dan membosankan. bukan pula budaya intelektual borjuis dan elitis di gedung-gedung mewah dengan pembicara terkenal dan mahal tapi tidak menjamin mampu memberikan gagasan-gagasan segar. seperti yang sekarang ini sering digelar oleh Lembaga-Lembaga Kemahasiswaan.
Tetapi, lebih kepada budaya intelektual yang lebih egaliter dan kaya. Yaitu pembangunan ruang publik sebagai tempat tumbuhnya diskursus-diskursus dan model-model dialektika yang cerdas. di mana komunitas-komunitas diskusi kecil tumbuh dengan keragaman ideologis dan cara berpikirnya dan dalam keseharian muncul wacana-wacana yang mempersoalkan atau mempertanyakan kembali apa yang selama ini.di keluarkan untuk di berikan
Sebab dengan terciptanya diskursus-diskursus seperti itu, sejalan dengan optimism Foucault “Pada akhirnya setiap dari kita belajar untuk kritis, terutama terhadap ideology-ideologi dominan dan terbentuk pula ruang bagi tumbuhnya gagasan-gagasan serta cara berada yang baru”. malah kalau perlu bila selama ini kita sering disuguhi wacana-wacana inferior seperti khilafah, dialog-dialog pengkafir dan kufuran, atau diskusi-diskusi kerumahtanggaan dan pubertas. maka, untuk meramaikan, wacana-wacana seperti Marxisme, Sosialisme, Komunisme, bahkan sampai Atheisme mestinya ditumbuhsuburkan.bukan untuk diikuti secara membabi-buta tapi digunakan untuk memperkaya khazanah berpikir, keilmuan dan memahami sudut pandang orang lain meski berbeda.
Sehingga dengannya diharapkan cara pandang mahasiswa lebih luas, lebih peka dan mampu bersikap kritis terhadap diri sendiri dan lingkungan. kesadaran-kesadaran baru terbentuk dan dengannya kesadaran individu lebih terintegrasi sehingga bisa lebih bertanggung jawab terhadap apa yang telah dipilihnya. termasuk dalam hal berorganisasi, mereka tak lagi jadi semut yang numpang keren tapi semut yang bisa menentukan apa yang terbaik bagi diri dan lingkungannya. bukan lagi semut yang terkurung dalam kotak sempit, kaku, dan kecil pemikiran serta tak lagi menjadi bulan-bulanan ideology dominan, korban indoktrinisasi atau terjebak dalam moralitas kawanan sambil bermimpi merubah sejarah.
“Orang bertindak durjana karena ketiadaan pikiran dan miskin imajinasi”, demikian tulis Arendt. Sejalan dengan Arendt, sepertinya disitulah juga persoalannya organisasi-organisasi kemahasiswaan kita, karena ketiadaan pikiran dan kemiskinan imajinasi, organisasi-organisasi kemahasiswaan kita sekarang ini, hanya menjadi sekedar organisasi penghibur dan superfisial. Mereka tidak bisa berpikir dan mengimajinasikan realitas masyarakat, mereka tak mengerti tentang persoalan-persoalan yang dihadapi dank arena itulah mereka lumpuh dan tak bisa membangun konsepsi-konsepsi baru bagi perubahan, bahkan sekedar konsepsi bagi krisis dalam organisasi mereka sendiri.
Organisasi Sebagai Ruang Pedagogis
Sudah saatnya organisasi kemahasiswaan dikembalikan pada fungsinya semula yaitu menelurkan produk-produk intelektual. Organisasi-organisasi kemahasiswaan tidak lagi semata sibuk dengan program-program yang tidak substantive dan asal besar, tetapi menjadi kantung-kantung intelektual penghasil gagasan-gagasan segar, melahirkan figure-figur mahasiswa berwawasan luas serta cerdas dan melahirkan intelektual-intelektual organic dengan komitmen yang tinggi terhadap rakyat dan perubahan sosial menuju masyarakat yang lebih adil.
Diskusi-diskusi kecil diciptakan dan dibangun, paradigma-paradigma diperbincangkan secara intensif, dan gagasan-gagasan besar diadopsi sambil dikritisi. untuk kemudian menghasilkan sintesa-sintesa pemikiran baru. bahkan kalau perlu menanggalkan ortodoksi keilmuan yang kaku dan mencoba menyentuh disiplin ilmu lain seperti politik, sosial, budaya, seni, sastra, dan sebagainya. Sebab, dengan demikian wawasan dan paradigma berpikir menjadi lebih luas, persoalan menjadi lebih jernih dan terang.
Lagipula bila melihat kenyataan perjuangan kemerdekaan di mana banyak putra bangsa yang mampu menelurkan gagasan-gagasan besar seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dan sebagainya. Itu karena setiap tindakan mereka tidak terlahir secara premature atau asal aksi, bergerak, serbu, serang. tapi terdapat proses dialektika panjang di dalamnya yang melibatkan perdebatan-perdebatan sengit, diskusi-diskusi panjang yang melelahkan, persentuhan dengan berbagai corak pemikiran yang membutuhkan tenaga, serta kekayaan pustaka yang digali tanpa kenal lelah. Dalam diri mereka terjadi proses penyatuan antara aspek-aspek teoritis dan praksis. karena itu pula gagasan mereka masih hidup sampai hari ini dan menginspirasi generasi-generasi setelahnya.
Dalam hal ini saya memiliki keyakinan yang sama dengan Marx bahwa “Revolusi tidak hanya memperhitungkan faktor-faktor objektif: Kehidupan opresif menimpa sejumlah kelas dan kelompok sosial yang sebenarnya tidak menerima system yang eksplotatif ini. Tetapi haruslah juga memperhitungkan faktor subjektif: Kesadaran kaum tertindas akan kenyataan yang opresif yang menimpa kelompok-kelompok yang dieksploitasi, dan kesiapan merobohkan tatanan ini”.
Terutama dalam konteks kekuasaan, perlu disadari pula, “Kekuasaan”, kata Gramsci, “Berwujud seperti makhluk mitologis, centaur yang setengah binatang dan setengah manusia”. Maksudnya, selain menggunakan tindakan koersif (kekerasan fisik) dalam melanggengkan statusnya, kekuasaanpun menggunakan praktik-praktik kebudayaan atau persuasive (kekerasan intelektual) yang sering sekali tak kita sadari. dalam bahasa yang lebih akrab mekanisme tersebut disebut “hegemoni”. Dan hegemoni tidak akan pernah terjadi selama kita bersikap kritis dan mau mempertanyakan kembali jargon-jargon penguasa termasuk budaya-budayanya. Terlebih berani memposisikan diri sebagai oposisi bagi penguasa.
Apalagi bila mengingat pendidikan yang membebaskan seperti harapan Paulo Preire. Saat ini tidak mungkin diserahkan kepada kampus secara institusional. Karena pendidikan institusional saat ini hanya menjadi ajang demostifikasi, indoktrinisasi dan pembentukan individu-individu sectarian sedang duduk manja di kelas saja sedikit sekali perannya dalam menumbuhkan kesadaran kritis, malah sering bikin ngantuk dan membunuh karakter. Sehingga sudah sudah semestinya organisasi, muncul sebagai ruang bagi transformasi dari ‘kesadaran selebritis’ menuju ‘kesadaran kritis’, yaitu bahwa kita sedang tidak hidup di dunia sinetron yang apolitis atau dunia anak band yang norak dengan lagu cinta kolokannya tapi hidup dalam dunia real di mana kita,- meminjam bahasa Foucault- “hidup dalam jarring relasi kuasa yang terus bermain” dan banyak persoalan muncul untuk dipikirkan serta disikapi secara kritis.
Artinya pembangunan kesadaran subjektif akan ketertindasan atau penciptaan budaya tanding ala Gramsci, memiliki peran yang sangat penting dan harus menjadi agenda utama terutama dalam meruntuhkan tatanan sosial yang saat ini sejatinya mengalineasi manusia dari kemanusiaannya sendiri.
Oleh karenanya, tanpa transformasi kesadaran dan upaya-upaya penyadaran akan kondisi sosio-historis ketertindasan dalam masyarakat. Sepertinya akan tampak sia-sia, bila mahasiswa sibuk dengan acara budaya tapi pemimpin dan anggota-anggota organisasinya lebih suka ke bioskop daripada menyaksikan pergelaran kebudayaan. bila bicara idealism tapi miskin dan tuna gagasan. bila mahasiswa sibuk bikin acara-acara besar tapi toh cara berpikirnya belum merdeka dan seperti budak. atau seperti komentar seorang teman “masih bermental dan otak terjajah”.